Ladri di Biciclette (1948)

So, I found an old Facebook's note contains of a review about Ladri di Biciclette, a neo-realism film which was played by my teacher (Budhy Komarul Zaman or known as Cak Budhy) in Kajian Film class. It was October 31, 2012, I was still fourth semester Communication student in Universitas Gadjah Mada. Cak Budhy asked us to write our review in Facebook notes (which was very popular at that time) or blogs then published it and tag to several friends.

I remember, I took a lot of time searching from blog and other sources to work on this review, because at that time, I had no enough knowledge about the neo-realism spirit on film. However, I think that my effort paid off. Happy reading! 😊

***

Antonio Ricci and Bruno, in a scene where they cleaned the Fides bike which was bought.
Sutradara: Vittorio DeSica. Pemeran:  Lamberto Maggiorani, Enzo Staiola. Durasi: 93 menit.


Bila sedang jenuh menikmati sajian film- film Hollywood masa kini yang didominasi oleh berbagai efek digital yang hebat dan imajinasi,  barangkali Anda bisa berpaling sejenak  ke film lawas, seperti Ladri di Biciclette (The Bicycle Thieves) yang diproduksi di Italia pada tahun 1948. Film ini menunjukkan kesederhanaannya lewat semangat neo- realisme yang diusung. Cirinya, syuting dilakukan langsung di lapangan tanpa menggunakan bintang film besar yang berperan sebagai aktor, plot yang berasal dari kehidupan riil, tak ada efek kamera atau efek digital yang aneh- aneh, dan pencahayaan yang  kebanyakan menggunakan sinar matahari (karena syuting lebih banyak dilakukan di luar ruangan).

Semangat neo- realisme ini menjadi anti-thesis dari film- film Hollywood yang di masa itu sedang tergila- gila dengan penggunaan studio setting. Namun, lebih jauh, semangat neo- realisme ini juga menjadi sesuatu yang baru, yang mendobrak film- film telefono bianco[1] di era keditaktoran Benito Mussolini sebelumnya di Italia. Semangat neo- realisme di film ini pada akhirnya juga memberikan kepercayaan diri bagi sutradara muda di negara- negara lain, seperti Satyajit Ray di India, dan negara- negara Amerika Latin.

DaSica, sang sutradara, secara jenius mampu mengangkat plot cerita sederhana dalam film ini menjadi sesuatu yang menyentuh dan luar biasa. Alurnya menceritakan tentang kehidupan keluarga Antonio Ricci (Lamberto Maggiorani) yang berjuang mendapat penghidupan lebih baik lewat pekerjaan sebagai penempel poster film, di era paska Perang Dunia II. Satu hal yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan itu: sepeda!

Ricci akhirnya berhasil mendapatkan sepeda bermerk Fides setelah menggadaikan semua seprai di rumahnya. Malang, baru sehari menikmati sepedanya, ia mengalami pencurian. Bersama Bruno (Enzo Staiola), putranya, Ricci berputar- putar dari gereja, rumah bordil, pasar sepeda curian, rumah peramal, hingga perkampungan kumuh di Kota Roma untuk mencari sepedanya. Ketika akhirnya pencuri sepedanya ditemukan, hanya kekecewaan yang Ricci rasakan.

Perjalanan Ricci dan Bruno ini memberikan pesan kuat berkaitan dengan nilai- nilai kemanusiaan. Juga, menjadi peringatan pada masyarakat dunia, bahwa perang, bagaimanapun bentuknya, selalu menimbulkan kesengsaraan, terutama bagi masyarakat tak berdosa. Karena perang jugalah, manusia bisa terbolak- balik perilakunya. Seperti tindakan Ricci di akhir film yang memutuskan untuk mencuri sepeda, sebetulnya muncul dari pergulatan batinnya sebagai kepala keluarga untuk menghidupi anak- istrinya di saat sebagian besar keluarga lain juga mengalami nasib dan kemiskinan yang sama.

Pengaruh Masa Pembebasan (Liberation) di Italia[2], era saat film garapan DaSica dibuat, membuat sutradara handal ini memberi kebebasannya juga pada penonton untuk menilai filmnya atas dasar penilaian moral. Ketika lingkaran pencurian itu ada (maka di Amerika film ini diterjemahkan sebagai The Bicycle Thieves), apakah penonton akan menghakimi satu karakter saja atau menerima dengan melihat latar belakang keadaan yang ada. Penerimaan ini menjadi sesuatu yang berharga, karena menurut saya, “Acceptance makes human human.” Tentang kuotasi ini, mungkin lebih baik dimaknai sendiri saat melihat adegan di akhir tentang Bruno yang “menerima” Ricci kembali lewat topi yang ia serahkan dan gandengan tangan, meskipun tetap dengan ekspresi kesedihan dan kekecewaan.

Film Ladri di Biciclette ini menjadi film yang penting di jamannya karena lewat tema dan pesan yang ada, ia mampu menggambarkan situasi yang terjadi hampir di seluruh negara di dunia paska Perang Dunia II. Setting yang kontras antara gereja di satu sisi dan rumah bordil serta rumah peramal di sisi lain, mengingatkan kita bahwa ketika masyarakat sudah nyaris hilang akal dengan kondisi kemiskinan yang ada, apapun mampu mereka halalkan, tanpa mempedulikan logika dan nilai moral. Mau bagaimana lagi, mengingat pemerintah pun tak bisa mereka harapkan untuk membenahi keadaan.

Penggambaran film Ladri di Biciclette yang begitu membumi dan tak adanya satupun bagian yang terasa berlebihan membuat film ini terasa sangat “fine”. Suatu kata yang susah dicari di saat kebanyakan film di era modern ini justru berlomba- lomba untuk menampilkan sesuatu yang “paling”. Mungkin karena itulah para juri Academy Award memutuskan untuk mengganjar film ini dengan penghargaan Honorary Award for Best Foreign Film di tahun 1950.[3]

Namun, acungan jempol juga patut diberikan pada Lamberto Maggiorani dan Enzo Staiola (7 tahun), masyarakat awam yang kemudian terpilih menjadi pemeran film ini. Dalam sebuah literatur di internet disebutkan bahwa Maggiorani adalah seorang pekerja bangunan, literatur lain  menyebutkan ia seorang pengangguran. Jika begitu, maka saat dilakukan syuting film Ladri di Biciclette ini, tak lain dan tak bukan, Maggiorani sedang memainkan perannya sendiri dalam kehidupan sehari- hari.


[1]&[2] Kusuma, Veronica. 2009. Neorealisme menurut Andre Bazin, dalam http://klubkajianfilmikj.wordpress.com/2009/04/30/neorealisme-menurut-andre-bazin/, diakses pada 29 Oktober 2012, pukul 22.19 WIB.
[3] http://bicarafilm.com/blog/category/film/50.html, diakses pada 29 Oktober 2012, pukul 22.19 WIB.


1 komentar:

 

Meet The Author

Inez Hapsari media & public relations enthusiast | children stories writer | jazz lover | I live to the fullest to be young and in love.