Unpublished Story XI: Detektif Pasar

Hi! This is a children story about Gang Baru, a traditional market in my hometown, Semarang. It is one of my favorite place to spend Sunday afternoon. The alley is filled by food and snack, fish and vegetable, mostly sold by Chinese descent in Pecinan area.

I was thinking about that place for a long time and what idea I could use to wrap it perfectly as a children story. However, the ideas was stuck for a long time, without finding its correlation; about a market and camera, first day of school, memory about mom's missing purse when I was in ES (she finally found it in plastic shopping bag, after being told by Budhe Win, our last housekeeper) and so on. I am glad I can link all of it and show you as a full children story ☺

So, please kindly read, use your imagination and enjoy your time! Last but not least, don't forget to put the source if you want to use this story. Don't do any kind of plagiarism, okay?

***

Detektif Pasar

Ma, ayo jalan-jalan!” bujuk Chika.
Mama menggeleng, sambil tetap membereskan barang-barang. Baru seminggu ini keluarga Chika pindah ke Semarang, karena itu rumah mereka masih berantakan.
Kalau begini, bagaimana aku bisa menyelesaikan tugas mengarang,” keluh Chika.
Kemarin, saat hari pertama masuk sekolah, Chika mendapat tugas menulis cerita tentang liburan. Buat Chika, tugas itu susah karena ia tidak punya cerita liburan yang menyenangkan. Hampir semua teman berlibur ke luar kota, sementara Chika hanya membantu Mama pindah rumah.
Tadinya Chika berharap, akhir pekan ini, Mama akan mengajaknya jalan-jalan. Guru Bahasa Indonesia Chika memberi tahu, kalau tidak sempat liburan, ceritanya bisa diganti dengan jalan-jalan saat akhir pekan. Tapi rencana itupun batal karena Papa ke luar kota sehingga tidak bisa mengantar.
Chika ikut Mama ke pasar saja yuk, belanja untuk hantaran,” ajak Mama. Rencananya, sebagai tanda perkenalan, Mama akan memasak untuk para tetangga di sekitar rumah.
Ah, tidak seru!” kata Chika. Tapi toh, ia ikut juga karena tidak ada kesibukan.
Dengan menumpang becak, Mama, Chika dan Kak Raka pergi dari rumah mereka di Seteran ke kawasan Pecinan. Chika duduk dipangku Mama. Sepanjang jalan, di kawasan itu, Chika terkesima melihat banyaknya kelenteng di kanan-kiri jalan. Tiba-tiba, becak mereka berhenti di depan sebuah gang.
Nah, sudah sampai,” kata Mama. “Ini namanya Gang Baru. Pagi sampai siang, gang ini dipenuhi penjual, seperti pasar.”
Chika mengangguk. Ia terkesima melihat penjual rebung atau tunas bambu muda, bahan isian lumpia Semarang, memadati ujung gang.
Ma, Chika mau itu!” seru Chika.
Belum sempat berjalan jauh, Chika sudah berhenti dan minta dibelikan cemilan dan minuman.
Ya sudah, kamu duduk di sana dulu. Mama mau membeli rebung dulu,” sahut Mama.
Dengan gembira Chika duduk dan memesan cakwe serta wedang tahu. Itu minuman khas Semarang, beraroma jahe, berisi kembang tahu, yang terbuat dari sari kedelai. Keringat membasahi dahinya, sebagian karena terik matahari, sebagian karena panas wedang tahu yang ia beli.
Chika, lihat sini!” seru Kak Raka.
Cekrek! Tiba-tiba Kak Raka memotret Chika yang sedang asyik makan. Ia juga memotret buruh gendong serta para penjual sayur.
source: Pinterest (Elise Gravel)

Wah, Bu, lihat! Kita masuk TV!” celetuk salah seorang pedagang yang keliru mengenali kamera Kak Raka sebagai handycam.
Kak Raka tersipu, namun tetap melanjutkan memotret sampai Mama datang.
Ayo jalan lagi. Mama mau belanja sayur dulu,” seru Mama setelah mencicipi sedikit wedang tahu yang Chika pesan.
Chika dan Kak Raka pun melanjutkan perjalanan. Di kios penjual sayur, mereka menunggu Mama selesai memilih brokoli, tomat, wortel dan jamur.
Berapa semuanya?” tanya Mama.
Tiga puluh ribu.”
Mama mengangguk dan mengambil dompet dari tas selempang yang dibawa. Namun..
Lho, dompetku kok tidak ada?” tanya Mama kebingungan.
Mama kembali meneliti tiap sudut tasnya dengan hati-hati, tapi dompet itu tidak ada. Saat mencari di tas belanja, ternyata isi tas itu berbeda!
Kok ada ayam? Perasaan tadi Mama cuma membeli rebung.”
Astaga, sepertinya, tas belanja Mama tertukar! Padahal, dompet Mama tertinggal di sana.
Tolong, siapa yang bisa menemukannya akan saya beri hadiah,” seru Mama.
Suasana pasar jadi sedikit gaduh. Para penjual dan buruh gendong yang tahu masalah itu mencoba membantu, tapi tas itu tidak ketemu. Dengan panik, Mama menyuruh Chika dan Kak Raka tetap di situ, sementara Mama menyusuri kembali jalan yang tadi dilalui.
Klik! Klik!”
Chika mendelik. “Kak Raka bagaimana sih, bukannya membantu malah asyik main kamera,” omelnya.
Hm.. Tenang saja, aku tahu di mana tas Mama.”
Saat Mama kembali, Kak Raka menunjukkan foto Chika yang tadi dipotretnya. Di foto itu, Chika sedang tersenyum, sementara Mama berdiri di belakang sambil memegang mangkuk berisi wedang tahu. Tas kain warna hijau yang biasa Mama bawa untuk mengurangi penggunaan kantong plastik tiap belanja, tergeletak dekat kaki Mama.
Namun, ada tas lain di sana! Tas kain warna hijau yang sama, juga tergeletak dekat kaki Mama. Sesosok Ibu tampak sedang membungkuk untuk mengambilnya.
Celaka! Sepertinya, tanpa sadar tas Mama sudah tertukar dengan tas Ibu itu.
Kak Raka mulai memencet tombol lain dan memperbesar foto. Meski muka Ibu itu terhalang bambu penyangga payung kain pelindung panas, tapi pakaiannya terlihat jelas. Biru, dengan motif bunga warna ungu.
Mama mulai melongok ke sana kemari, mencari si ibu pemakai baju warna biru. Tapi, terlalu banyak orang yang memakai baju dengan warna sama saat itu.
Dengan putus asa, Mama melongok lebih jauh, sampai kemudian dilihatnya seorang Ibu berbaju biru bergegas menuju ujung gang. Tangannya menjinjing tas kain warna hijau.
Mama buru-buru menghentikannya. “Maaf, apa ini punya Anda?”
Muka Ibu itu bingung sejenak, tapi lalu memeriksa tas yang Mama bawa.
Benar, ini punya saya!” katanya lega. “Ah, tadi saya bingung sekali, kenapa isi tas saya berbeda. Ada dompet yang tidak saya kenal di dalam sana."
source: Pinterest (theinspirationgrid.com)
Mama tersenyum, menukar tas kain hijau identik itu, lalu mengucapkan terima kasih. Tak lupa Mama mengeluarkan dompet dan membayar ke penjual sayur yang sedari tadi menunggu.
Untung tas dan dompetnya ketemu. Kalau tidak, mungkin Chika dan Kak Raka harus pulang berjalan kaki sampai ke rumah,” komentar Mama.
Tapi Mama sepertinya melupakan sesuatu.”
Alis Mama terangkat. “Apa itu?”
Kan tadi Mama bilang akan memberikan hadiah untuk yang menemukan tas dan dompet Mama.”
Iya. Kan, hari ini kami sudah jadi detektif pasar yang menyelamatkan Mama,” seru Chika.
Mama tersenyum lebar. Dengan gemas ia mencubit pipi anak-anaknya. Sebagai hadiahnya, sebelum pulang, Mama membolehkan Chika dan Kak Raka memilih jajanan untuk dibawa ke rumah. Chika memilih lopis, sementara Kak Raka minta dibelikan klepon untuk camilan selama perjalanan pulang.

Chika senang. Hari ini ia tidak hanya bisa mengenal lebih jauh Kota Semarang, tapi juga mendapat bahan untuk menulis cerita tentang liburan!

0 komentar:

Post a Comment

 

Meet The Author

Inez Hapsari media & public relations enthusiast | children stories writer | jazz lover | I live to the fullest to be young and in love.