Ketika Raja Harus Memilih

So, this is my tenth children stories which published in mass media. More precisely, it published at monthly Catholic magazine, Utusan, June 2017 (and the fourth that publish in Utusan, and also the first which publish this year. Yeay!)

Resume
This story tells about a young king, Astin who finds difficulties in making decisions because he is such a doubter. One day, Astin needs to make an important decision for his people who affected by flood. Astin finds that all the choice is risky, even after he calculated all the pros and cons in a paper. So, Astin forced his adviser to make the best decision, but if it fails, then the adviser needs to bear the consequences.

The adviser who fails becomes afraid, then ask for protection from Astin's mother. From his mother, Astin learns that there is no best solution, even for a complex problem, but Astin can always rely on his heart for making decisions. Of course, it takes some times and experiences to be a wise king who can make a decision. If he success pass it, Astin can be like his late father, the King Vincent, who well-known because he dares to take decision and do not afraid to bear the risks. 

Idea
I got the idea from my-self, because I realize that in this age, I am still such a doubter like Astin. One of my obvious weakness is that I am not good in making decisions. I need longer time to combine all the information, such as about the fact, chronology, opinion from both sides, etc until I picture one big puzzle. Then, I can look for another views from others, analyze the pros and cons, then make one best decision, along with other plans if something go wrong in the middle.  But still, that is quite a hard process for me, a thinker. So, one day, a HRD from Danone who used to interview me suggested, "How if you use your heart and believe in your instinct?" Another friend, Fr. Surya SJ also told me the same, to use my heart more rather than thinking a whole time. Well, I will give it a try! 😜




***

Ketika Raja Harus Memilih

 
Astin masih berusia tiga belas tahun ketika ia menjadi Raja. Ayahnya, Raja Vincent, meninggal karena sakit keras. Akibatnya, Astin harus naik takhta dalam usia muda.

Sayang, Astin seorang Raja yang peragu. Ketika harus mengambil keputusan, Astin menyerahkan sepenuhnya pada menteri dan penasihat kerajaan. Seperti sekarang, saat seorang kepala daerah datang karena banjir melanda daerahnya.

“Baginda, hamba mohon petunjuk, apa yang perlu hamba lakukan. Rakyat kehilangan rumah dan tidak punya bahan makanan karena banjir,” lapornya. “Untuk sementara, mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian. Kini mereka makan dari cadangan makanan di lumbung kami.”

Penasihat kerajaan menyela. “Kalau seperti itu, bisa-bisa rakyat di daerah itu kehabisan cadangan makanan untuk tahun depan, Baginda.”

Selama ini, lumbung di tiap daerah memang difungsikan sebagai tempat menyimpan cadangan makanan hingga setahun mendatang. Tapi dengan adanya bencana banjir ini, beberapa lumbung jadi rusak parah. Bahan makanan yang disimpan di dalamnya pun kini tak lagi bisa dimakan karena basah.

“Satu-satunya pilihan, kita membeli bahan makanan dari kerajaan lain, Baginda. Tapi harganya sangat mahal. Kualitasnya pun tidak sebaik dengan yang petani kita hasilkan,” kata penasihat. 

Astin gelisah. “Kalian para penasihat kerajaan, kenapa tidak bisa memberi solusi terbaik untuk aku putuskan?” hardiknya.

Para penasihat kerajaan ketakutan. Mereka berpandang-pandangan. Akhirnya ada satu orang yang angkat bicara.

“Ampun, Baginda. Tapi kami, penasihat kerajaan hanya bisa memberi masukan. Bukan kewenangan kami untuk memutuskan,” katanya.

 “Tapi bagaimana aku bisa memutuskan? Semua pilihan berisiko,” kata Astin perlahan.

Mendengar itu, penasihat tadi memberanikan diri untuk angkat bicara lagi. “Bagaimana kalau masing-masing pilihan kita hitung untung-ruginya, Baginda? Nanti Baginda bisa memilih, pilihan mana yang mempunyai paling sedikit kerugian.”

“Ide bagus!” sorak Astin. Ia lalu mengambil kertas dan mulai mencoret-coret di sana. Namun wajahnya kembali muram.

“Sama saja. Masing-masing pilihan yang kalian sebutkan tadi mempunyai keuntungan dan kerugian sama besarnya,” kata Astin.

Ia merenung. ‘Kalau setiap pilihan mempunyai keuntungan dan kerugian sama besarnya, apa sebaiknya aku memilih asal saja? Aku akan menulis pilihan-pilihan tersebut dalam kertas berbeda, lalu memilihnya sambil menutup mata,’ pikir Astin.

‘Ah, tidak.. Aku tidak boleh memilih dengan ceroboh seperti itu,’ pikirnya lagi.
Seorang menteri menyela. “Kalau seperti itu, hamba pikir solusi paling mudah adalah membeli dari kerajaan tetangga, Baginda.”

Astin berpikir sejenak. “Baik.. baik.. Lakukan saja sesuai usulmu. Tapi kalau itu gagal, kau yang menanggung akibatnya.”

Mendengar itu, menteri jadi kebingungan. Akhirnya dengan terpaksa ia melakukan hal yang ia usulkan. Menteri itu lalu melaporkan.

“Bahan makanan akan tiba seminggu lagi, Baginda,” katanya.

“Seminggu lagi? Rakyat pasti sudah lemas saat bahan makanan itu tiba di sini.”
 “Hanya itu yang terbaik yang bisa hamba lakukan, Baginda.”

Astin menahan amarahnya. Terpaksa mereka mengandalkan lumbung makanan, sambil menunggu bahan makanan dari kerajaan tetangga tiba.

Tapi harapan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Bahan makanan itu memang tiba tepat waktu, namun tetap tidak bisa dimakan. Karena terlalu lama di perjalanan, makanan itu mulai busuk dan berbau.

Mengetahui itu, menteri bergegas mencari perlindungan. Ia ketakutan membayangkan dirinya akan menerima hukuman. Karena itu, menteri cepat-cepat menemui ibunda Raja Astin. Selama ini Beliau memang terus mengurung diri di ruangan setelah suaminya meninggal.

“Astin..” panggil seorang wanita.

Astin menengok. Ia terkejut mendapati ibundanya akhirnya keluar dari ruangan. Dengan serta-merta Astin mendatangi wanita itu. Ia menurut saja ketika diajak berjalan berkeliling galeri kerajaan.

“Astin, kamu tahu apa yang membuat Ayahmu terkenal?” kata ibundanya sambil memandangi sebuah lukisan. Itu lukisan Raja Vincent. Lukisan itu dibuat untuk mengenangnya setelah ia tiada.

“Ia tidak ragu mengambil keputusan dan berani menanggung risikonya.”

Mendengar itu, Astin merasa malu. “Pasti menteri yang lapor kepada Ibu.”

Ibunda Raja Astin tertawa. “Tidak penting siapa yang melaporkan itu pada Ibu. Tapi, kamu memang membutuhkan banyak waktu dan pengalaman untuk menjadi Raja yang bijak dalam mengambil keputusan.”

Ibunda Raja Astin melanjutkan. “Tidak ada solusi terbaik, Astin, bahkan dalam masalah yang kompleks. Tapi kamu selalu bisa mengandalkan hatimu untuk mengambil keputusan.”

Mendengar itu, Astin menatap ibundanya dengan ragu. “Lalu, apa yang harus kulakukan untuk masalah ini, ibunda?”

“Hmm..” Ibunda Raja Astin berpikir sejenak. “Pergilah ke kelompok tani di utara. Selama ini mereka selalu hidup hemat dan bijaksana. Pasti mereka masih mempunyai sisa makanan. Belilah dengan harga tinggi dan berikan kepada rakyat yang jadi korban.”

Mata Astin berbinar. Akhirnya satu masalah terselesaikan. Esok, masalah baru akan datang, tapi Astin harus belajar untuk mengambil keputusan.


1 komentar:


  1. Please let me know if you're looking for a article writer for your weblog. You have some really great posts and I feel I would be a good asset. If you ever want to take some of the load off, I'd love to write some articles for your blog in exchange for a link back to mine. Please shoot me an e-mail if interested. Regards! netflix account

    ReplyDelete

 

Meet The Author

Inez Hapsari media & public relations enthusiast | children stories writer | jazz lover | I live to the fullest to be young and in love.